Langsung ke konten utama

Unggulan

PAK MUJUD, ARUM MANIS DAN REBAB

  Berjumpa dengan Pak Mujud yang sangat ramah di suatu siang di Malang. Saya melihat pak Mujud dari kejauhan berjalan kaki membawa jualan dalam kotak kaleng berwarna biru sambil menggesek rebab. Buat saya yang belum lama di kota Malang tertarik dengan apa sebenarnya yang beliau jual. Oleh rekan - rekan yang saat itu bersama saya menyampaikan bahwa itu adalah penjual arum manis, kuliner khas kota Malang. Kami mengajak pak Mujud ngobrol sebentar sambil mengambil foto sekaligus rekan - rekan saya yang asli ataupun sudah lama di Malang bernostalgia. Pak Mujud kelahiran Lamongan, kecamatan Laren, sudah berjualan arum manis  sejak masih muda. Dan sudah berjualan di beberapa daerah seperti Lombok, Lampung kalau tidak salah ke Papua juga. Apakah di luar Malang berjualan dengan menggunakan rebab juga ? tidak sempat saya tanyakan. Jualan arum manis sepertinya sudah menjadi pekerjaan utamanya. Luar biasa mempertahankan satu pekerjaan dengan metode tradisional sementara harus bersaing den...

WISATA MANGROVE DI PERBAUNGAN

 


Wisata Mangrove di Sumatera Utara ada di Sei Naga Lawan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Deli Serdang. Dari kota Medan berjarak 1 jam dengan mengambil jalur tol. Mencari lokasi ini melalui google map akan sangat membantu. Jalan yang mulus sampai ke lokasi. Selepas tol kita akan menikmati pemandangan khas pedesaan dengan persawahan yang saat kami menuju lokasi baru saja bibit padi ditanam. Sepanjang jalan kita akan temukan petunjuk jalan yang memudahkan kita menuju lokasi jika signal sedang tidak baik. Semakin mendekati lokasi kita akan mengikuti sungai, saat itu air sungai sedang surut. Pemandangan perahu nelayan jadi pemandangan yang menarik juga buat mata.



Biaya parkir Rp. 15.000 dan biaya masuk per orang Rp. 10.000 tidak terlalu mahal untuk masuk ke lokasi. Dari pengamatan saya lokasi wisata mangrove sejenis ekowisata. Kami datang dengan rombongan untuk menanam bibit bakau sebanyak 300 bibit dengan harga per bibit Rp. 5.000. Biaya ini sudah termasuk biaya perawatan maka itu berarti suatu saat kita dapat datang kembali untuk melihat hasil tanam kita. Yang ditanam secara simbolis di pinggir pantai tidak banyak sebagian lagi akan ditanam di tempat yang lain oleh pengelola. Pengelolanya sendiri adalah masyarakat yang sekaligus sebagai nelayan. Mereka mengupayakan mangrove ini sudah masuk pada generasi ke 3. Bagi penduduk setempat wisata ini sangat berdampak bagi ekonomi mereka. Baik dampak penanaman bibit pohon yang sudah lama lalu berdampak hingga ke ketersediaan bahan makanan. Jadi kehadiran kita pasti sangat membantu masyarakat. 



Kami tiba di lokasi sekitar pukul 08.00 wib dan para pengelola sudah mulai dengan kesibukannya yang nampak hilir mudik di lokasi. Kami menggunakan 1 gazebo di bagian tengah untuk mendengarkan penuturan dan arahan guide atau pendamping yang disediakan. Pendamping kami adalah pak Irvan berusia - menurut taksiran saya - berumur 40an tahun. Beliau memberikan pemaparan seputar pergumulan mereka sebagai nelayan, apa yang dimaksud mangrove, manfaat mangrove dan memberikan penjelasan beberapa tanaman mangrove yang bermanfaat bagi kesehatan. Beliau sampaikan juga bahwa beberapa tanaman mangrove bisa juga dikelola  menjadi masakan oleh para perempuan di daerah itu. Sambil mendengar penjelasan pak Irvan kami menikmati kopi dan teh dengan disuguhkan beberapa jenis kue yang dibuat oleh penduduk setempat. Kue dan makan siang sudah dipesan lebih dahulu oleh tim kerja. Makan siang pastinya menu ikan laut yang dibeli dari hasil melaut masyarakat.


 
Sambil memberikan penjelasan kami menuju spot dimana bibit tanaman akan kami tanam yaitu dipinggir pantai. Pantainya sendiri adalah pantai dangkal. Untuk menanam pun kami diberikan petunjuk dimana dan bagaimana cara menanamnya agar bibit tanaman bisa tumbuh. Bibit tanaman mangrove harus dibantu dengan batang kayu atau bambu yang ditembuskan melalui polybag agar bibit tidak hanyut terbawa arus. Bibit yang ditanam secara simbolis lokasinya masih berada dalam lingkungan wisata namun sisanya akan ditanam di area yang lebih luas namun tidak jauh dari tempat ini menurut informasi seluas 9 hektar. Bibit lainnya akan ditanam oleh petugasnya sendiri. Penanaman mangrove ini tanpa disadari dekat dengan Hari Bumi, 22 April lalu.


Setelah itu kami menunggu makan siang sambil menunggu makan siang disiapkan, saya menyusuri pantai. Ada beberapa fasilitas di lokasi wisata ini selain area penanaman bibit disediakan juga bungalow glamping  yang bisa dipakai menginap dengan biaya Rp. 300.000, ada banyak pondok - pondok baik dengan pemandangan bakau maupun langsung ke sungai sambil menikmati kapal nelayan yang hilir mudik. Ada beberapa spot foto di tepi sungai, ada jalur jalan beralas bambu di bawah rerimbunan pohon bakau. Ada juga spot foto lainnya namun harus menyeberang sedikit melewati sungai ke arah tepi pantai. Disewakan juga MPV sebesar Rp. 20.000 dengan batasan waktu, pasti seru buat anak - anak. Kita juga dapat menikmati pemandangan berupa beberapa jenis kepiting kecil dengan beragam warna.


Komentar

Postingan Populer