Langsung ke konten utama

Unggulan

PAK MUJUD, ARUM MANIS DAN REBAB

  Berjumpa dengan Pak Mujud yang sangat ramah di suatu siang di Malang. Saya melihat pak Mujud dari kejauhan berjalan kaki membawa jualan dalam kotak kaleng berwarna biru sambil menggesek rebab. Buat saya yang belum lama di kota Malang tertarik dengan apa sebenarnya yang beliau jual. Oleh rekan - rekan yang saat itu bersama saya menyampaikan bahwa itu adalah penjual arum manis, kuliner khas kota Malang. Kami mengajak pak Mujud ngobrol sebentar sambil mengambil foto sekaligus rekan - rekan saya yang asli ataupun sudah lama di Malang bernostalgia. Pak Mujud kelahiran Lamongan, kecamatan Laren, sudah berjualan arum manis  sejak masih muda. Dan sudah berjualan di beberapa daerah seperti Lombok, Lampung kalau tidak salah ke Papua juga. Apakah di luar Malang berjualan dengan menggunakan rebab juga ? tidak sempat saya tanyakan. Jualan arum manis sepertinya sudah menjadi pekerjaan utamanya. Luar biasa mempertahankan satu pekerjaan dengan metode tradisional sementara harus bersaing den...

Mancing Di Paropo






Rencana perjalanan sebenarnya hanyalah karena mendapat informasi bahwa saya dan teman - teman akan dibawa ke tempat pemancingan di daerah Tongging. Ini pertama kali ke daerah ini. Sebelumnya hanya sampai di bagian atas yaitu Air Terjun Sipiso-piso. 

Berangkat dari Berastagi di kaki gunung Sibayak, tempat kami menginap malam sebelumnya. Sekitar 1,5 - 2 jam kami tiba di Tongging.Memasuki wilayah ini satu gerbang dengan Air Terjun Sipiso - piso, per orang harus membayar Rp. 5.000 untuk masuk wilayah ini.  Juga ya untuk menambah pendapatan daerah.  Jalan mulus namun harus berhati - hati karena turunan dengan beberapa tikungan tajam. Turunnya saja begitu apalagi naiknya nati saat pulang. Jika tidak mahir mengendarai mobil sebaiknya jangan beranilah. Dalam perjalanan nampak air terjun dari jauh tapi sekali lagi  hati - hati karena harus fokus mengendarai.

Sesampai di Tongging kami diberikan pilihan apakah memancing di Tongging atau di Silalahi. Wah buat saya yang mengenal beberapa rekan bermarga Silalahi agaknya lebih menarik di Silalahi. Menarik karena akan saya upload di facebook lalu menunggu komentar mereka yang bermarga Silalahi. Ketika saya upload di facebook beberapa yang terkait marga Silalahi memberi respon. Saya senang jika mereka tahu saya sudah sampai di kampung marga mereka.

Jalan dari Tongging menuju Silalahi agak sempit walaupun ukuran dua mobil berpapasan dapat saling melewati. namun harus berhati - hati jika mobil kita berada di sebelah kiri karena terlalu ke kiri maka akan jatuh ke jurang. Jadi jika berpapasan dengan mobil lain lebih baik berhenti dan menepi saja supaya aman. Nampaknya tidak ada angkutan umum baik mobil maupun roda dua, beberapa warga nampak berjalan kaki atau berhenti sejenak mungkin sambil mengatur nafas. Usaha masyarakat sekitar nampak melalui keramba dibeberapa tempat juga bawang merah yang dijemur di banyak rumah. 

Akhirnya kami berhenti di lokasi pemancingan di desa Paropo. Lokasinya di kaki bukit. Bukitnya kelihatan berbatu dengan pohon yang sangat jarang namun bukit tetap hijau.



Buat saya dan teman - teman memancing di Silalahi, yang merupakan bagian dari Danau Toba, punya kesulitan tinggi. Umpan yang kami siapkan tidak disentuh oleh ikan sama sekali. Menurut pemancing lain ikan yang ada adalah Mujair dan ikan Louhan dan ikan Mas. Nama ikan Louhan nampaknya pemberian masyarakat sekitar walaupun kelihatan bukan ikan louhan seperti yang saya tahu. Selain itu awan mendung serta hujan turun membuat kami harus beristirahat. Ketika hujan reda saya mengambil waktu untuk melihat Danau Toba dari atas bukit kecil. Pemandangannya ternyata sangat menarik. Di tempat ini bukan hanya menjadi tempat pemancingan tetapi juga ada lokasi untuk berenang. Disediakan tempat untuk bakar ikan juga. Untuk makanan sangat terbatas, kami hanya bisa memesan mie instan untuk makan siang. Parkiran mobil ada di beberapa tempat.




Kami pulang setelah masing - masing mendapatkan ikan yang "limited edition". Entah buat yang lain tetapi buat saya alamnya sangat menarik melebihi kepuasan dari hasil pancingan. Saatnya kembali ke Berastagi dengan  "setengah hati" belum puas memancing dan belum puas mengenal Paropo. Mauliate.


Komentar

Postingan Populer