Langsung ke konten utama

Unggulan

PAK MUJUD, ARUM MANIS DAN REBAB

  Berjumpa dengan Pak Mujud yang sangat ramah di suatu siang di Malang. Saya melihat pak Mujud dari kejauhan berjalan kaki membawa jualan dalam kotak kaleng berwarna biru sambil menggesek rebab. Buat saya yang belum lama di kota Malang tertarik dengan apa sebenarnya yang beliau jual. Oleh rekan - rekan yang saat itu bersama saya menyampaikan bahwa itu adalah penjual arum manis, kuliner khas kota Malang. Kami mengajak pak Mujud ngobrol sebentar sambil mengambil foto sekaligus rekan - rekan saya yang asli ataupun sudah lama di Malang bernostalgia. Pak Mujud kelahiran Lamongan, kecamatan Laren, sudah berjualan arum manis  sejak masih muda. Dan sudah berjualan di beberapa daerah seperti Lombok, Lampung kalau tidak salah ke Papua juga. Apakah di luar Malang berjualan dengan menggunakan rebab juga ? tidak sempat saya tanyakan. Jualan arum manis sepertinya sudah menjadi pekerjaan utamanya. Luar biasa mempertahankan satu pekerjaan dengan metode tradisional sementara harus bersaing den...

Belajar Dari Huta Siallagan

 


Huta Siallagan adalah huta (kampung) bagi marga Siallagan. Lokasinya di Pulau Samosir di kecamatan Ambarita tepatnya di dekat Pelabuhan penyeberangan dari Ambarita ke Parapat jika menggunakan ferry. Saya sempat kesasar saat menuju tempat ini karena petunjuk lokasi ini sangat minim. Harusnya petunjuk lokasinya besar sehingga mudah untuk dilihat tanpa bantuan google.

Selama ini saya mengenal Huta Siallagan sebagai tempat yang memberi kesan  bagaimana orang Batak banyak yang menjadi pengacara karena dibesarkan dengan budaya “berbicara” . Itu pandangan awal saya tentang Huta Siallagan ini namun selanjutnya yang terlihat lebih dari itu.

Yang pertama, di Huta Siallagan lebih dikenal dengan Batu Persidangan. Batu persidangan nampak sebagai batu meja  (baik meja maupun kursi bahkan patung orang  dari batu pun ada) yang digunakan untuk membicarakan dan mengambil keputusan tentang banyak hal.  Lalu  dikaitkan dengan Tempat Pemasungan dan Tempat Eksekusi bagi yang melanggar aturan huta.Tempat eksekusi ini akhirnya menjadi penanda bahwa ada era kanibalisme di huta ini yang belum tentu menjadi rujukan bahwa seluruh orang batak pada era itu kanibal semua.. Namun yang perlu dicatat bahwa mereka yang dieksekusi di tempat ini adalah mereka yang terbukti bersalah jadi kalaupun ada kanibalisme hanya berlaku bagi orang yang tervonis bersalah. Walaupun  ada rumah disekitarnya namun tempat pertemuan rakyatnya ada di tempat terbuka, di bawah pohon Hariara dan terletak di bagian depan kompleks perumahannya. Teringat informasi bahwa bangsa Israel dulu juga melakukan pertemuan entah di gerbang kota atau di tengah kota yang pasti di luar ruangan.

 


Yang kedua, perumahan di kampung letaknya di atur sejajar lalu huta itu dikelilingi oleh dinding batu yang disusun rapih. Sitor Situmorang dalam buku  Toba Na Sae sedikit menjelaskan tentang huta seperti ini yang dalam bentuk benteng yang lebarnya 50 meter dan Panjang  70 meter dengan 6 hunian ruma (rumah hunian) dan  dua sopo (lumbung). Satu huta diperkirakan  didiami sekitar 120 orang. Raja huta yang diwariskan dalam keluarga yang bersifat turun temurun bertanggung jawab atas manajemen huta, penegakan hukum adat dan ketertiban. Karena itu bisa dipahami jika letak meja pengadilan di depan ruma raja huta sekaligus menjelaskan bahwa  di depan rumahnya disediakan pasung  untuk memasung warga atau orang lain yang melanggar aturan. Memasuki huta ini kita harus masuk melalui pintu yang dijaga oleh patung  Pangulubalang ada kisah mistis juga terkait patung penjaga ini. Berdasarkan petunjuk di lokasi maka kita hanya bisa masuk melalui  pintu yang dikawal patung Pangulubalang dan keluar di area  tempat eksekusi.

 


Yang ketiga, ukiran batak yang disebut dengan gorga yang bertebaran di rumah mereka namun tidak asal diletakkan karena ada maknanya. Ada yang memaknai bahwa rumah orang batak harus memiliki roh (tondi) yang menunjukkan rumah itu hidup. Karena itu gorga memberi nuansa kehidupan itu. Gorga yang nampak di foto dan yang bisa saya jelaskan adalah singa – singa serta gajah dompak dibagian depan rumah dimaknai sebagai penolak bala. Selanjutnya simbol Boraspati yang menghadap ke empat payudara yang dimaknai dengan kelekatan. Posisi boraspati selalu menghadap empat payudara. Keempat payudara itu pun memiliki makna kesucian, kesetiaan dan kesejahteraan. Yang secara budaya membentuk mentalitas orang Batak untuk melekat dengan tanah sekaligus melekat dengan ibu mungkin juga dengan huta. Dalam banyak budaya tanah selalu dimaknai secara feminis misalnya tanah air sering disebut ibu pertiwi. Jenis boraspati juga beragam pendapat yang muncul ada yang mengatakan jenis boraspati ni tano (kadal) atau  boras pati ni ruma (cicak) sementara boraspati lain adalah boraspati ni huta (tokek).



Apapun itu melihat Huta Siallagan bukan sekedar yang diberitakan di media yaitu terkait dengan tempat pengadilan, tempat eksekusi atau pemenggalan saja serta penuh nuansa mistis. Ada banyak makna yang bisa diperoleh di huta ini. Hal itu menunjukkan kemajuan peradaban orang batak saat itu. Mulai dari pengaturan huta, pengaturan rumah serta pengaturan hukum.  Jadi silahkan berkunjung untuk melihat lebih banyak lagi.



 


Komentar