Langsung ke konten utama

Unggulan

PAK MUJUD, ARUM MANIS DAN REBAB

  Berjumpa dengan Pak Mujud yang sangat ramah di suatu siang di Malang. Saya melihat pak Mujud dari kejauhan berjalan kaki membawa jualan dalam kotak kaleng berwarna biru sambil menggesek rebab. Buat saya yang belum lama di kota Malang tertarik dengan apa sebenarnya yang beliau jual. Oleh rekan - rekan yang saat itu bersama saya menyampaikan bahwa itu adalah penjual arum manis, kuliner khas kota Malang. Kami mengajak pak Mujud ngobrol sebentar sambil mengambil foto sekaligus rekan - rekan saya yang asli ataupun sudah lama di Malang bernostalgia. Pak Mujud kelahiran Lamongan, kecamatan Laren, sudah berjualan arum manis  sejak masih muda. Dan sudah berjualan di beberapa daerah seperti Lombok, Lampung kalau tidak salah ke Papua juga. Apakah di luar Malang berjualan dengan menggunakan rebab juga ? tidak sempat saya tanyakan. Jualan arum manis sepertinya sudah menjadi pekerjaan utamanya. Luar biasa mempertahankan satu pekerjaan dengan metode tradisional sementara harus bersaing den...

Merah Putih dan Holyland

 

 


 

 

Saya dan rombongan ke Israel untuk melihat kota Yerusalem dan sekitarnya  di awal tahun 2020 sebelum Covid 19 menyebar menjadi pandemi. Saya mengambil jalur pendek hanya 7 hari dengan mengunjungi situs – situs di Betlehem, ke padang sampai ke Laut Mati dan terakhir di seputaran Danau Galilea. Selama tujuh hari tersebut saya menikmati momen – momen  keindonesiaan saya tergelitik  ada yang membuat saya tertawa geli walaupun hanya dalam hati tetapi juga tergelitik  untuk mengatupkan tangan membawa doa agar hubungan kedua negara ini bisa menjadi lebih baik.

Ada banyak pengalaman berdasarkan apa yang dilihat, didengar dan diamati. Yang paling mengesankan dan sedikit menimbulkan tawa dalam hati adalah bagaimana kami dilayani sebagai orang Indonesia. Ini yang menurut saya menarik di sana dari sekian banyak hal rohani tentunya.

Setelah mengunjungi  Bukit Zaitun yang terletak diseberang tembok kota Yerusalem yaitu seberang Pintu Gerbang Emas kami menuju Betlehem yang masuk wilayah Palestina.  Di sana kami makan di rumah makan Chinesefood yang dikelola oleh orang Palestina.  Mereka ternyata pernah ke Indonesia jadi bisa sedikit bahasa Indonesia walaupun terbata - bata. Makanan yang disajikan yang khas seperti yang sering dinikmati di Indonesia membuat serasa saya tidak berada jauh dari rumah. Apalagi buat kami yang dari Medan makanan chinesefood mudah kali dijumpai.


Selanjutnya mengunjungi  jalan yang disebut Via Dolorosa yang sekaligus merupakan napak tilas perjalanan Yesus Kristus memikul salib. Lagi – lagi di sini pun saya tidak merasa asing dengan  karena para pedagang di Via Dolorosa menawarkan dagangan mirip di pasar – pasar tradisional khususnya kalau kita melewati penjual pakaian. Mereka merayu kami dengan kalimat “ satu, 5 (lima) dolar” untuk kain dan semacamnya  atau  “ satu 3 (tiga) dollar” untuk minuman dari buah manggis yang sangat besar dibanding manggis Indonesia. Dari mana mereka tahu kami dari Indonesia ? Dari mana mereka belajar bahasa Indonesia ? Mungkinkah karena sudah hafal dengan wajah Mr. Oded yang mungkin rutin membawa peziarah dari Indonesia ? Saya membatin  bahwa para pedagang ternyata punya metode” marketing universal” dalam hal berjualan. Saya pikir Via Dolorosa akan saya jalani dengan khidmat tapi ternyata saya malah tertarik dengan perilaku pedagang yang mirip dengan pedagang di Indonesia.


Berikutnya kami menuju ke Laut Mati dengan hamparan padang gurun sejauh mata memandang. Sebelumnya singgah lebih dulu di kota Yerikho tempat dimana Yesus Kristus dibawa untuk di goda Iblis, nama tempatnya sekarang adalah Mount Of Temptation. Di tempat ini nampaknya kami yang sedang digoda. Kami digoda dengan  kalimat yang sama di Via Dolorosa yaitu  “satu, 5 (lima) dollar”. Tapi kali ini kalimat itu  disampaikan setelah   penjelasan tentang barang dagangannya khususnya kurma. Kali ini pedagangnya lebih fasih bahasa Indonesia, dari wajahnya kelihatan masih sangat muda. Karena penasaran saya lalu menanyakan dari mana  ia belajar bahasa Indonesia dengan fasih, jawabnya ia sering ke Indonesia. Kalau ke Indonesia, ia dan keluarganya selalu pergi ke pasar Tanah Abang. Dan ternyata guide kami juga sering ke Indonesia dan sering juga ke pasar Tanah Abang. Sambil melihat barang apa yang menarik untuk dibeli, saya membatin lagi, jangan – jangan ada barang dari Tanah Abang di jual di toko ini.


Di luar rute kunjungan kami ditawarkan untuk mengunjungi Gunung Hermon.  Menuju ke Gunung tersebut kami singgah sebentar minum kopi di keluarga yang beragama Druze. Menarik karena kata tuan rumah semua agama sama menyembah Tuhan. Betul sekali pesan bapak itu, di Gunung Hermon yang tinggi kami  semua menikmati salju pemberian Tuhan di gunung ini. Semua orang apapun agamanya menikmati keindahan gunung bersalju. Saat Kembali dari puncak gunung saya berjumpa dengan keluarga Israel dan minta foto bersama. Saya sampaikan kalau saya dari Indonesia dan berharap mereka juga bisa ke Indonesia. Dari tanggapan mereka nampak jelas mereka tahu bahwa Indonesia dan Israel tidak mempunyai hubungan diplomatik karena itu mereka akan mengalami kesulitan untuk ke Indonesia. Di sisi ini saya berharap mereka dan orang Israel lainnya suatu saat bisa ke Indonesia untuk melihat keindahan Indonesia.



Yang membuat saya berterima kasih kepada pengelola pariwisata di Israel adalah kami bisa mengibarkan bendera Merah Putih di danau Galilea di atas kapal Haifa sambal menyanyikan lagu Indonesia Raya. Rasanya berbeda sekali menyanyikan lagu ini dalam peziarahan rohani seolah memberi pesan bahwa sekultus apapun kota Yerusalem sebagai  holyland tetapi Indonesia juga adalah holyland kami karena kami adalah Indonesia. 


Semakin kami diingatkan akan keindonesiaan kami dengan lagu Batak  dan tarian Maumere. Danau Galilea yang diketahui tempat beberapa peristiwa penting terjadi salah satunya adalah peristiwa Yesus Kristus berjalan di atas air. Sekarang menjadi penting juga bagi  Indonesia karena menjadi spot bendera Merah Putih, lagu Indonesia Raya, lagu Batak dan tarian Maumere dinyanyikan dan digerakkan. Suatu peziarahan iman sekaligus peziarahan kebangsaan,

 


Selamat Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke 75……….. Indonesia is my holyland

 

Komentar

  1. Mantap PaPend...kapan lagi ke Holyland dengan Nyora yaa...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer