Berjumpa dengan Pak Mujud yang sangat ramah di suatu siang di Malang. Saya melihat pak Mujud dari kejauhan berjalan kaki membawa jualan dalam kotak kaleng berwarna biru sambil menggesek rebab. Buat saya yang belum lama di kota Malang tertarik dengan apa sebenarnya yang beliau jual. Oleh rekan - rekan yang saat itu bersama saya menyampaikan bahwa itu adalah penjual arum manis, kuliner khas kota Malang. Kami mengajak pak Mujud ngobrol sebentar sambil mengambil foto sekaligus rekan - rekan saya yang asli ataupun sudah lama di Malang bernostalgia.
Pak Mujud kelahiran Lamongan, kecamatan Laren, sudah berjualan arum manis sejak masih muda. Dan sudah berjualan di beberapa daerah seperti Lombok, Lampung kalau tidak salah ke Papua juga. Apakah di luar Malang berjualan dengan menggunakan rebab juga ? tidak sempat saya tanyakan. Jualan arum manis sepertinya sudah menjadi pekerjaan utamanya. Luar biasa mempertahankan satu pekerjaan dengan metode tradisional sementara harus bersaing dengan penjual arum manis yang sudah lebih modern baik cara pembuatan sampai penjualan yang sudah menggunakan media online. Mesin pembuat rambut nenek dibuat tahun 1897 oleh William Morrison, seorang dokter gigi, dan John C. Wharton, seorang pembuat manisan, keduanya berasal dari Amerika. Alat tersebut dipublikasikan tahun 1904 dengan nama "Fairy Floss" atau benang peri, produk alat tersebut diberi nama yang sama. Di Indonesia pembuatan arum manis atau sejak tahun 1920.

Ada yang menyebut Malang menjadi tempat pembuatan dan tempat penjualan makanan khas ini. Tetapi sumber lain menyebutkan Lamongan menjadi tempat pembuatannya dan juga para penjualnya berasal dari sana. Mempertahankan arum manis sebagai jualan pastinya tidak mudah di era sekarang. Menurut informasi rekan saya pak Ayub menyampaikan bahwa para penjual ini biasanya akan mengontrak rumah secara bersama - sama sehingga akan mengurangi beban kontrak rumah. Harus berhemat karena pendapatan penjualan diperkirakan tidak mencapai seratus ribu perhari. Karena pengaruh modernitas lokasi penjualan pun hanya di perkampungan atau di pasar bahkan terkadang di acara - acara atau pesta rakyat. Sebutan untuk arum manispun beragam antara lain arbanat, rambut nenek atau gulali. Namun ada perbedaan antara arum manis dan gulali.
Wadah arum manis yang dibawa oleh pak Mujud menggunakan wadah dari kaleng dengan 2 lubang besar seperti kaleng krupuk untuk mengambil arum manis. Pak Mujud menggunakan garpu yang sedikit dibengkokkan untuk memudahkan mengambil arum manis dari mulut kaleng.
Seperti penjual pada umumnya sering menggunakan musik atau bunyi - bunyian untuk menjadi penanda dan pemanggil bagi para pembeli. Penjual arum manis juga menggunakan alat musik sebagai penanda atau pemanggil yaitu Rebab. Bagi pak Mujud hanya menggunakan rebab sebagai pemanggil saat berjualan saja dan tidak bisa menggunakan rebab untuk memainkan lagu lainnya. Rebab memang sudah menjadi bagian kehidupan budaya di nusantara bisa jadi karena pengaruh budaya Timur Tengah yang masuk ke nusantara dan secara historis menjadi brand dari penjual arum manis di Malang walaupun sering juga digunakan dalam pentas budaya lainnya. Rebab berbeda dengan Arbab. Rebab dijumpai di Jawa, Sumatera dan Kalimantan dengan dua senar sedangkan Arbab dijumpai di Sumatera Utara, Aceh dan Maluku dengan menggunakan satu senar. Pak Mujud meninggalkan kami diiringi nostalgia rekan - rekan tentang kota Malang dan kulinernya.
Komentar
Posting Komentar