Langsung ke konten utama

Unggulan

PAK MUJUD, ARUM MANIS DAN REBAB

  Berjumpa dengan Pak Mujud yang sangat ramah di suatu siang di Malang. Saya melihat pak Mujud dari kejauhan berjalan kaki membawa jualan dalam kotak kaleng berwarna biru sambil menggesek rebab. Buat saya yang belum lama di kota Malang tertarik dengan apa sebenarnya yang beliau jual. Oleh rekan - rekan yang saat itu bersama saya menyampaikan bahwa itu adalah penjual arum manis, kuliner khas kota Malang. Kami mengajak pak Mujud ngobrol sebentar sambil mengambil foto sekaligus rekan - rekan saya yang asli ataupun sudah lama di Malang bernostalgia. Pak Mujud kelahiran Lamongan, kecamatan Laren, sudah berjualan arum manis  sejak masih muda. Dan sudah berjualan di beberapa daerah seperti Lombok, Lampung kalau tidak salah ke Papua juga. Apakah di luar Malang berjualan dengan menggunakan rebab juga ? tidak sempat saya tanyakan. Jualan arum manis sepertinya sudah menjadi pekerjaan utamanya. Luar biasa mempertahankan satu pekerjaan dengan metode tradisional sementara harus bersaing den...

BUKIT HOLBUNG

 

BUKIT HOLBUNG



Bukit Holbung menurut informasi masyarakat sekitar, baru 3 tahun menjadi destinasi wisata di Samosir dan secara khusus menjadi incaran anak muda. Holbung dalam bahasa batak berarti lembah.  Terletak di Kecamatan Harian, desa Dolok Raja. Menuju tempat ini kami mengambil jalur Medan – Berastagi – Merek – Tele – kemudian berbelok ke kanan mengikuti marka jalan yang menunjuk ke  arah kecamatan Sihotang. Kami sendiri tidak langsung ke Bukit Holbung namun lebih dahulu ke Pangururan lalu menyeberang ke Pulau Samosir. Dari Medan sekitar 6 jam perjalanan  jika menggunakan mobil serta  mengambil jalur Medan - Berastagi. Jalur lain bisa melewati Pematang Siantar lalu sampai di Parapat naik ferry di penyeberangan Ajibata bisa turun di pelabuhan Simanindo maupun Ambarita namun lebih dekat jika turun di Pelabuhan Simanindo. Jika mengikuti jalur penyeberangan maka harus memperhatikan jadwal penyeberangan kapal ferry. Sebelum menemukan bukit ini kita dapat menikmati air terjun Efrata. Saat kami melalui jalan yang ada di kecamatan Harian  sebagian sedang dikerjakan baik pelebaran dan pengairan belum kelihatan apakah akan diaspal. Namun sebagian besar jalan  sudah beraspal. Hanya semakin ke lokasi Bukit Holbung jalan semakin sempit dan mendaki namun tetap keindahan pemandangan sepanjang pendakian tersebut sangat memanjakan mata.Tetapi tetap hati – hati khususnya yang baru pertama kali berkunjung menggunakan mobil.

 



Menurut informasi anak muda akan ramai dan memasang tenda di akhir pekan. Mereka menunggu saat matahari terbenam dan matahari terbit. Beberapa fasilitas umum ada di sana seperti warung dan toilet. Untuk toilet hanya ada di dekat parkiran dan tidak ada di atas bukit. Namun menurut saya perlu panduan dari pengelola agar memberikan arahan sebelum naik ke lokasi. Yang perlu diperhatikan bahwa ada beberapa titik yang cukup curam yang agak berbahaya di musim hujan serta sampah yang seharusnya dibuang pada tempatnya. Karena di atas bukit tidak ada tempat sampah maka seharusnya dengan kesadaran sendiri kita harus menyimpan sampah kita sendiri dan membuangnya saat turun dari bukit. Ada retribusi untuk naik ke lokasi baik untuk orang maupun kendaraan yang akan digunakan. Perorang dikenakan biaya masuk Rp.5.000 dan mobil dikenakan biaya parker sebesar Rp. 10.000. Saat kami di lokasi ada pasangan yang sedang melakukan sesi foto yang sedikit terganggu karena hujan rintik. Oh iya, di Bukit ini tidak ada pohonnya jadi jika tidak membawa payung atau mantel maka akan kebasahan saat hujan karena tidak ada tempat berteduh. Demikian juga saat panas terik namun jika ada angin yang sejuk pasti tidak terasa panasnya.

 

 


Bukit Holbung sendiri menjadi menarik karena nampak seperti padang savana atau sabana. Sabana – demikian orang Indonesia sering menyebutnya – tidak bisa menjadi hutan, biasanya karena curah hujan yang minim. Bukit ini  menjadi menarik karena berada di ketinggian dan bisa melihat danau Toba dibawahnya serta kampung Sihotang juga ada di sebelah kanan bawah. Karena pemandangan yang bagus maka sangat bagus untuk dijadikan spot foto khususnya untuk sesi foto prewedding.  Paling tidak ada 3 atau 4 ketinggian yang berada dalam satu jalur. Semakin lama semakin tinggi karena itu silahkan mengukur kemampuan yaitu kekuatan nafas serta kekuatan lutut tidak perlu memaksa karena semakin tinggi akan semakin curam dan membutuhkan kekuatan fisik dan konsentrasi yang baik karena jika tergelincir bisa meluncur jauh ke danau Toba. Saya juga melihat ada sisa – sisa kebakaran di sebelah kanan. Menurut informasi media online memang terjadi kebakaran di lokasi tersebut  awal Agustus 2020. Jika ada waktu ke Pulau Samosir sebaiknya singgah ke tempat ini karena pemandangannya memang sangat menarik.



Komentar

Postingan Populer